Blog Informasi Teknologi

Pengertian dan Contoh Kalimat Aktif dan Pasif Bahasa Indonesia

Pengertian dan Contoh Kalimat Aktif dan Pasif Bahasa Indonesia

Pengertian dan Contoh Kalimat Aktif dan Pasif Bahasa Indonesia - Kalimat aktif dan pasif, berikut uraian mengenai definisi dan contoh. Semoga bermanfaat bagi pembaca. Kalimat aktif adalah kalimat yang memiliki subjek dan menyatakan adanya tindakan. Kalimat aktif memiliki pola subjek(S), predikat (P), dan objek (O).
Contoh:
  • Gustin membeli sabun di swalayan.
  • Ibu memasak ayam kecap.
  • Nenek minum teh.

Ciri-ciri kalimat aktif:

  1. Kalimat aktif (S) melakukan tindakan yang langsung mengenai (O).
  2. Predikat diawali imbuhan me atau ber-
  3. Pola kalimat aktif SPOK, SPO, SPK

Jenis-jenis kalimat aktif yaitu:

  1. Kalimat aktif intransitive

    Kalimat aktif yang harus mendapat imbuhan objek yang diperoleh dari subjek   
    Contoh:
Adikdibelikan bonekaoleh ibu
   S                 P                  O
  1. Kalimat aktif ekatransitive

    Kalimat yang memiliki pelengkap, kalimat ini hanya memiliki 3 unsur SPO
    Contoh:
  • Gustin berangkat ke sekolah
        S             P               O
  • Kakak membeli sayuran dan lauk-pauk
       S           P                       O
  1. Kalimat aktif intransitive

    Kalimat yang memiliki pola SP atau SPK saja.
    Contoh:
  • Adik sedang bermain diluar
       S               P                K
  • Adik sedang mengerjakan PR yang diberikan ibu guru
       S                       P                                     K
  1. Kalimat aktif dwitransitive

    Kalimat aktif yang harus memiliki semua pola SPO dan pelengkap, jika kalimat aktif dwitransitive ini tidak diberi pelengkap maka kalimat nya akan rancu.
Contoh:
  • Ayah memberikan bingkisan untuk nenek dipinggir jalan itu.
      S                    P                              O                     Pel.
  • Arman mebersihkan kebun seminggu sekali.
       S                 P              O             Pel.
Sedangkan kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai tindakan.
Contoh:
  • Usman dibelikan handphone oleh paman
        S                        P                         O
  • Pekarangan ditanami oleh ayah
            S                P             O

Ciri-ciri kalimat pasif yaitu:

  1. Kebalikan dari kalimat aktif, subjek pada kalimat aktif menjadi objek di kalimat pasif.
  2. Pada predikat awalan yang digunakan di-, ke-an dan ter-
Contoh:
  • Semua perabotan rumah terbawa arus air banjir yang sangat deras.
  • Kedatangan nenek disambut dengan gembira. ( aktif)
  • Sekarang ini kemajuan Gatget begitu pesat. ( pasif)
  1. Kata kerja didahului kata ganti orang ku dan kau.
Contoh:
  • Lantai kotor itu kubiarkan
  1. Kata oleh dalam kalimat pasif bisa dihilangkan karena tidak akan merubah makna kalimat yang ada.
Contoh:
  • Ani dimarah oleh ayah bagun kesiangan. ( aktif)
  • Ani dimarah ayah bangun kesiangan. ( pasif)
                  Contoh:
                   Padi
  disawah sudah dipanin
                      S            P           O
                   Buronan begal   tertangkap    oleh polisi   kemarin siang.
   S                            P                       O                      K
                   Loundryanku terbawa   ani   yang kemarin bersamaku .
             S              P       O                pel.            K
                   Telingaku   kemasukan  semut-semut  yang bergerombolan.
                                S                 P                 O                        pel.
                   Bajuku
  disetrika  oleh kaka  hingga menjadi rapih.
  S                P                O                  K






Pengertian dan Contoh kata baku dan tidak baku Bahasa Indonesia

Pengertian dan Contoh kata baku dan tidak baku Bahasa Indonesia

Mungkin sudah sering mendengar istilah kata baku dan tidak baku baik di lingkungan masyarakat, sekolah, maupun pendidikan. Berikut ini kita akan membahasnya:
Pengertian kata baku adalah kata yang sudah sesuai memenuhi kaidah bahasa dan ejaan dan berpatokan dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Umumnya sering digunakan seseorang untuk penyampaian yang resmi baik tulisan maupun dalam menyampaikan pendapat. Membuat kalimat baku tidaklah perlu melihat kata baku yang terdapat di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kalimat baku sering digunakan untuk menyampaikan di forum resmi, guru mengajar di kelas, dan penyampaian pidato.

Umumnya kata baku sering digunakan untuk:
  • Penyusunan karya ilmiah
  • Membuat surat lamaran pekerjaan
  • Membuat surat dinas, edaran dan surat resmi
  • Membuat laporan kegiatan; baik laporan pekerjaan, sekolah, dan kuliyah
  • Berpidato dan rapat dinas
  • Musyawarah desa atau berdiskusi
  • Guru disaat menyampaikan pembelajaran di kelas
Sedangkan kata tidak baku adalah kata yang sering digunakan tanpa melihat kaidah bahasa ataupun ejaan yang sesuai KBBI. Kata Tidak baku sering digunakan saat percakapan sehari-hari dalam bahasa tutur. Pemicu ketidakbakuan kata bukan ditimbulkan salah penulisan, akan tetapi disebabkan pengucapan dan selalu muncul dalam percakapan sehari-hari.
  • Penggunaan kata yang salah namun tidak diperbaiki.
  • Terpengaruh oleh orang-orang disekitar yang terbiasa menggunakan bahasa tidak baku.
  • Sudah terbiasa menggunakan kata tidak baku dalam sehari-hari.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam kalimat baku yaitu:

  1. Logis

Kalimat bisa dikatan logis apabila bisa diterima dengan akal pikir yang sehat. Banyak kalimat dalam keseharian yang digunakan, namun kalimat tersebut bukan dikatakan baku jika tidak logis.
Contoh:
  • Bagi siswa yang menghidupkan komputer untuk dimatikan!
  • Bagi siswa yang menghidupkan komputer untuk mematikan komputernya.
  1. Hemat

Kalimat bisa dikatakan baku jika tidak terdapat pemborosan kata.
Contoh:
  • Masyarakat yang mendapatkan bantuan dari pemerintah saling berdesak-desakan untuk menunggu antrian. Kalimat tersebut terdapat pemborosan pada kata “saling” dan “ berdesak-desakan”.
  • Masyarakat yang mendapatkan bantuan dari pemerintah saling berdesakan untuk menunggu antrian.
  1. Padu

Hubungan antar kalimat harus singkron agar tidak menimbulkan salah persepsi atau rancu.
Contoh:
  • Dari data yang didapat menunjukkan bahwa kenaikan angka Dolar mengakibatkan inflasi bagi rakyat kecil. Kalimat tersebut tidak memiliki unsur subjek.
  • Kenaikan angka Dolar mengakibatkan inflasi bagi rakyat kecil.
Kalimat baku misalnya: Abjad, Aktif, Aktivitas, Andal, Hakikat, Herarki, Ijazah, Miliar,Modern, Pikir, Teladan, Telanjur, Yudikatif, Ubah, Zaman, Peduli, Paham, Objektif, Nasihat.
Kalimat tidak bakunya: Abjat, Aktip, Aktifitas, Handal, Hakekat, Hirarki, Ijasah, Milyar, Moderen, Fikir, Tauladan, Terlanjur, Yudikatip, Rubah, Jaman, Perduli, Faham, Obyektif, Nasehat.

Contoh kalimat baku dan tidak baku:

  1. Andi membeli mie goreng di warung. (Baku)
Andi beli mie goreng di warung. (Tidak baku)
  1. Mereka saling mendorong. (Baku)
Mereka saling dorong. (Tidak baku)
  1. Ayah sudah menerima gajih bulan ini.(Baku)
Ayah sudah terima gajih bulan ini.(Tidak baku)
  1. Semua calon mahasiswa baru dipersilahkan memasuki GSG.(Baku)
Semua calon mahasiswa baru dipersilahkan masuk GSG. (Tidak baku)
  1. Para pengunjung Mall yang mengendarai sepeda motor untuk menunjukkan STNK.(Baku)
Pengunjung Mall yang mengendarai sepeda motor untuk tunjukkan STNK. (Tidak baku)
Pengertian Serta Contoh Kalimat Efektif

Pengertian Serta Contoh Kalimat Efektif

Pengertian Serta Contoh Kalimat Efektif - Kalimat efektif adalah kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa yang dapat dipahami, mampu menyampaikan informasi, dan serta mampu menimbulkan daya tarik diri oleh pembaca atau pendengar.

Beberapa syarat yang memenuhi bahwa kalimat itu efektif, sebagai berikut:
1. Mudah dipahami oleh pendengar atau pembacanya.
2. Tidak menimbulkan kesalahan dalam mengartikanmaksud sang penulis.
3. Menyampaikan pemikiran penulis kepada pembaca atau pendengarnya dengan tepatdan jelas.
4. Sistematis, evisien,dan tidak bertele-tele.

Prinsip-Prinsip Kalimat Efektif:

Prinsip-prinsip yang harus dimiliki kalimat efektifyaitu kesepadanan, kepararelan, kehematan kata, kecermatan, ketegasan, kepaduan dan kelogisan kalimat. Berikut uraiannya:

A. Kesepadanan Struktur

Kesepadanan adalah keseimbangan antara kesatuan gagasan dan kesatuan pikiran dengan struktur bahasa yang dipakai dalam kalimat. Ciri-ciri kalimat yang memiliki kesepadanan struktur, yaitu:

1. Memiliki subjek dan predikat yang jelas
Contoh:
Bagi semua karyawanPNS harus mengikuti upacara bendera.(Tidak efektif)
Semua karyawan PNS harus mengikuti Upacara bendera . (Efekti)

2. Tidak memiliki subjek yang ganda di dalam kalimat tunggalyang dapat menimbulkan kerancuan.
Contoh:
Pembangunan Masjid itu kami dibantu oleh semua warga desa.              (Tidak Efekti)
Dalam membangun Masjiditu, kami dibantu oleh semua warga desa.     (Efektif)

B. Kepararelan Bentuk

Kalimat efektif memiliki kesamaan bentuk kata yang dipakaidi dalam kalimat. Maksud kesamaan bentuk kata ini yaitujika kata pertama berbentuk verba, maka kata selanjutnya berbentuk verba. Namun, jika kata pertama berbentuk nomina, maka kata selanjutnya berbentuk nomina.

C. Kehematan kata

Kalimat efektif menghindari pemborosan kata di dalam kalimat, menghindari kalimat yang tidak perlukan dan tidak bertele-tele.

D. Kecermatan

Kecermatan adalah tepat, cermat, dan teliti dalam memilah kata agar tidak menimbulkan kerancuan dan makna ganda.

E. Ketegasan

Kalimat efektif memberikan penegasan untuk ide pokoknya supaya ide pokonya menonjol di dalam kalimat tersebut.

F. Kepaduan

Kalimat efektif memiliki kepaduan peryataan sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah dan berkesinambungan.

G. Kelogisan

Ide kalimat yang digunakan dapat diterima atau dimengerti oleh akal pikir dan sesuai kaidah EYD

Contoh Kalimat Efektif:
Karena ronda semalam, ayah terlambat datang ke kantor.
Dian memakai topi hitam.
Ani sedang membuat pisang goreng.

Pengertian serta Contoh Kalimat Majemuk Bertingkat

Pengertian serta Contoh Kalimat Majemuk Bertingkat

Pengertian serta Contoh Kalimat Majemuk Bertingkat - Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang terdiri atas dua klausa dimana kedudukan antar klausa tidak setara atau tidak sederajat. Kalimat majemuk bertingkat memiliki klausa-klausa yang bersifat subordinatif, yaitu kedudukan kedua klausa di dalam kalimat tidak sejajar atau setingkat. Salah satu klausa ada yang berkedudukan sebagai induk kalimat, sedangkan klausa yang lainnya berkedudukan sebagai anak kalimat. 

Bagian kalimat majemuk bertingkat yang berasal dari bagian kalimat yang tidak mengalami pergantian atau perubahan disebut induk kalimat, sedangkan bagian kalimat yang berasal dari kalimat tunggal yang sudah mengalami pergantian atau perubahan disebut dengan anak kalimat.

Klausa pada kalimat majemuk bertingkat yang berkedudukan sebagai anak kalimat tidak dapat berdiri sendiri. Klausa ini membutuhkan klausa lain yang berkedudukan sebagai induk kalimat dan apabila antara klausa satu dengan klausa lainnya dipisahkan, maka salah satu klausa, yaitu anak kalimat tidak akan memiliki arti.

Jenis-jenis kalimat majemuk bertingkat adalah sebagai berikut:
  1. Kalimat Majemuk Urutan Waktu

Kalimat majemuk betingkat ini ditandai dengan adanya kata penghubung ketika, saat, sejak, waktu itu, kala itu, sesudah, setelah, manakala dan lain-lain.
Contoh:
  1. Ketika Ibu datang, saya sedang belajar di kamar.
  2. Ayah sedang pergi ke pasar, saat Pak Lurah datang kerumah.
  3. Sejak saya masih TK, keluarga kami sudah pindah ke Kota ini.
  1. Kalimat Majemuk Atributif

Kalimat majemuk ini dapat dilihat dengan adanya konjungsi “yang”.
Contoh:
  1. Lelaki yang berbaju merah itu adalah teman sekolahku.
  2. Wanita yang berambut panjang itu adalah kakakku.
  1. Kalimat Majemuk Bertingkat Penjelas

Kalimat majemuk ini dicirikan dengan adanya kata hubunng “bahwa”.
Contoh:
  1. Nilai hasil ujiannya menunjukkan bahwa ia benar-benar anak yang pintar.
  2. Aku baru tahu hari ini bahwa Budi menderita penyakit demam berdarah.
  1. Kalimat Majemuk Sebab Akibat

Ciri kalimat majemuk ini adalah adanya konektor berupa kata “oleh karena itu, sehingga, makanya, sampai-sampai, sebab, karena”.
Contoh:
  1. Suaranya sangat merdu, sehingga Rina dapat memenangkan kontes itu.
  2. Ani adalah anak yang rajin belajar,oleh karena itu, ia menjadi juara umum di sekolahnya.
  3. Ayah berjalan terburu-buru, sampai-sampai tidak menghiraukan kendaraan yang adadidepannya.
  4. Adik tidak mau mendengar perkataan Ibu, makanya ia selalu saja dimarahi.
  5. Karena tidak masuk sekolah selama satu minggu, Andi mendapat surat peringatan dari sekolahnya.
  6. Kakak mengundurkan diri dari perusahaannya sebab kakak ingin melanjutkan sekolahnya.
  1. Kalimat Majemuk Pengandaian

Kalimat majemuk ini ditandai dengan adanya konektor “seolah-olah, seperti, seakan-akan, jika, seandainya, andaikata”.
Contoh:
  1. Jika hari tidak hujan, Doni akan datang ke pesta ulang tahun Ari.
  2. Seandainya kamu mendengarkan apa kata Ibu guru, pasti nilai ujianmu tidak akan seburuk itu.
  3. Dia berprilaku seperti anak konglomerat.
  4. Meri diam saja, seolah-olah tidak terjadi apapun.
  5. Seandainya saya punya uang yang banyak, saya akan membelikan Ibu rumah yang lebih layak.
  6. Andaikata kemarin kamu menerima cintaku, aku pasti sangat bahagia.
  1. Kalimat Majemuk Bertentangan dengan Kenyataan.

Kalimat ini dihubungkan dengan konjungsi “padahal, kenyataannya.”
Contoh:
  1. Deri sangat kurus, padahal makannya banyak.
  2. Hobinya berbelanja barang meah, kenyataannya dia anak orang tidak punya.
  1. Kalimat Majemuk Hubungan Cara

Kalimat majemuk ini ditandai dengan kata penghubung “dengan”
Contoh:
  1. Pak Tono mengolah sawah dengan peralatan seadanya.
  2. Dengan berdagang, ibu mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami sehari-hari.
  1. Kalimat Majemuk Perbandingan

Klausa-klausa pada kalimat majemuk ini digabungkan oleh konjungsi berupa “ibarat, daripada, bagaikan, laksana, sebagaimana, lebih baik.
Contoh:
  1. Bagaikan pungguk merindukan bulan, Adi bermimpi untuk menikah dengan bunga desa.
  2. Dari pada bermain, lebih baik membantu ibu di rumah.
  3. Kamarnya sangat rapi bagaikan kapal pecah.
  4. Bu Sani menyayangi Rani sebagaiman ia menyayangi anak kandungnya sendiri.
  1. Kalimat Majemuk Hubungan Tujuan

Kalimat majemuk ini digabungkan dengan konjungsi berupa “Agar, supaya”.
Contoh:
  1. Adik rajin belajar agar nilai ulangannya bagus.
  2. Udin mengunci pintu rumahnyadengan sangat rapat supaya tidak terjadi kemalingan.
  1. Kalimat Majemuk Bersyarat

Klausa dalam kalimat majemuk ini ditandai dengan kata “seandanya, jika”.
  1. Jika punya uang yangbanyak, aku akan berkeliling dunia.
  1. Kalimat Majemuk Hubungan Konsesip

Kalimat majemuk ini ditandai dengan konjungsi “walaupun, meskipun, biarpun, kendatipun, sungguhpun”.
Contoh:
  1. Walaupun hatinya sangat berduka, ia tak pernah memperlihatkannya di hadapan Ibunya.
  2. Hisup harus tetap berjalan, meskipun banyak cobaan yang menghalangi.




Back To Top